Monday, September 10, 2018

Saat bibir tidak mampu mengungkap kata

Assalamualaikum


Bila butir bicara terasa sulit untuk diungkapkan. Bisanya cuma terluah melalui patah kata untuk menyedapkan hati yang duka lara. Mengapa perlu disenangkan hati yang terluka, kerana tiada cara lain ku jumpa untuk menenangkan jiwa dan emosi yang sedang berperang bergolak untuk mencari ketenangan kembali. 


Tidak terungkap patah kata untuk teman di sekeliling berkongsi rasa. Seakan tidak di rasa pahit yang melanda sedih yang membungkam. Cerita sedih kita, jangan di cerita kepada yang lain. Tidak akan ada yang bisa mengerti sakitnya yang ditanggung. Bukan tidak ku simpan percaya, tapi biarlah penghidupan diri kita sendiri yang atur selesaikan. 


Meronta diri setiap saat, mengenang nasib yang menjengah diri. Apa perlu ditangisi sehingga kering air di mata. Apa perlu aku meneruskan seperti biasanya. Mana mungkin, tidak sekuat batu hati yang satu ini. Rapuh di mamah ombak yang membadai memercik menarik satu persatu bahagia di hati. 


Butuhku cuma, ruang dan waktu untuk menjalani hidup tanpa dibayangi duka semalam. Biar lalu diterbang angin rindu. Rindu dan kasih yang dahulu meniti di hati. Masa akan memakan semuanya. Tiap detik dan kenangan yang berlalu pergi, di kubur kemas dalam sanubari hati. Biarlah ia menyepi berlalu sepi. Menhapus semua kenangan indah yang tidak bisa lagi aku idam seperti dulunya. 


Sedarkan aku, dia bukan lagi untukku. Harapku, terkubur biar sampai di sini. Bahagianya sudah ditemui, melayari hidup barunya dengan yang di cintai. Maka biarlah segala kenangan dan anganku terkubur selamanya. Cinta yang dulunya aku damba, kini tidak bisa lagi aku agungkan. Berakhirlah sudah.... 




Cinta... Dahulunya aku lakar indah kisah kita, berharap yang pada akhirnya kita bersatu menempuh hidup bersama. Cinta... Tidak seharusnya aku miliki. 





Aku, 
Yang pernah mencinta dan dicinta. 


No comments:

Post a comment